This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Thursday, 7 April 2011
AQUA Dalam GCG
Wednesday, 6 April 2011
all I know is that I can't stop thinking of you
so sorry for hurting you in the past
I wish I could take it all back
I'm only wondering how I could make it up to you
If there a way
I would hope you would show me and let me
but if you don't want to,
I just hope you don't forget me
by: Yugo Negoro
Tuesday, 5 April 2011
Jangan Banyak Omong Ya
Saat ini banyak sekali orang yang menjadi pengamat dan motivator. Tetapi apakah mereka itu dapat menjalankannya? (menjalankan apa yang mereka katakan kepada orang lain-red), karena praktek itu tidak seperti teorinya.
Kata orang jawa saat ini sering banget orang yang jarkoni . Apa itu jarkoni? Iso ngajari rak iso ngelakoni (dalam bahasa Jawa), bisa memberi tahu tetapi tidak bisa melakukannya. Yang sangat disayangkan adalah orang yang seperti itu. Pada zaman sekarang yang dibutuhkan sebuah
Monday, 4 April 2011
Pewarta dan Media, Sang Pembentuk Realita
Ada banyak media informasi –media informasi dalam bentuk berita- di Indonesia. baik melalui media komunikasi yang bersifat konvensional seperti koran, ataupun media komunikasi yang sekarang telah menjadi sebuah kebutuhan kolektif, yaitu internet. Tidak seperti masa orde baru, media secara kekinian telah mengalami suatu revolusi berlandaskan “kebebasan” untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi. Atau pelaku media sering menyebutnya sebagai “kebebasan pers”.
Pada dasarnya, sorang pewarta yang akan menyampaikan berita haruslah menjadi seseorang yang obyektif dan independen serta menyampaikan apa yang
Forgiven. Yang Tak Terlupakan....

sebuah buku yang dikarang begitu cantik oleh Morra Quatro
“Aku bahagia memiliki mimpi. Dan bila Aku tak berhasil menggapai mimpiku, aku akan tetap bahagia”
Ini mungkin menjadi salah satu makna yang dalam. Makna yang diperoleh dari membaca novel “Forgiven-Yang Tak Terlupakan.” Yang mengisahkan tentang seorang gadis. Gadis yang jatuh cinta pada seseorang gila Fisika. Penggemar berat Albert Einsten. Seorang yang memiliki mimpi meraih gelar nobel.
Kisah cerita yang sulit ditebak. Novel cinta dan mimpi yang sangat memukau. Memiliki makna yang dalam. Dan unpredictable. Bagi penggila cerita novel yang flip-ending (susah ditebak alurnya), novel ini sangat dirokemendasikan.
Prologue
Prologue novel yang dimulai dari pertemuan dua sahabat sejak SMA. Yang sudah tak bertemu
Untuk Persaingan
tidak berubah?
Picik
Ramai, namun lengang
isu meleleh
satu per satu antri membaur
semua merasa penting
benar
semua menang
tapi satu yang benar-benar menang
kejujuran
dunia-akhirat.... menang.....
Akulah Wakilmu
Hinggaku tulis ini, kau masih berduka
Bukan tanpa sebab,
Melihat Indonesiaku tertatih persoalan tak kunjung henti
Bah berhenti ?
Lihatlah ibu,
Bagaimana kemelut persoalan itu membelenggu
Ketika hukum bisa dibeli
Harus kemana hamba sahaya tak bersalah lari
Pengangguran merajalela sementara SDA dikeruk lain bangsa
Banyak anak pribumi putus sekolah
Moral bangsa yang semakin jauh dari norma
Si miskin dan si kaya berebut subsidi pemerintah
Lantas bagaimana dengan pemerintah ?
Oleh, dari dan untuk rakyat hanya jargon saja
Entah apayang dipikirnya
Saat sidang berlangsung mereka hanya TA
Tenang…. Ibu pertiwi
Masih ada anakmu yang berbakti
Takperlu bersedih hati
Anakmu datang membawa perubahan
Di negeri ini, Indonesia
Karena bukan dia atau mereka wakilmu
Tetapi aku
(Puisi Oleh: Medinah Arisanty)
Negeriku Negeri Mafia
Senyum sapa ramah ciri khas pribadinya
Kebijaksanaan milik rakyat maupun penguasa
Tetap tegar ditengah gempuran sang adidaya
Itu dulu…………..
Kini, budi pekerti luhur semakin luntur
Kepentingan rakyat seakan digusur
Penguasa tak lagi mau jujur
Mereka bilang, biar saja negeri ini hancur
Uang telah menjadi dewa
Yang halal jadi haram, haram pun dihalalkan
Intelektualitas dijadikan senjata
Korupsi, kolusi, nepotisme menjadi hal yang biasa
Penjahat kerah putih merajalela
Tak dapat mangsa, nyawalah taruhannya
Sekarang, tak ada kenyamanan di negeriku ini
Sang pengayom tak lagi mau mengayomi rakyatnya
Sang pengadil melepaskan tikus-tikus pemangsa
Hukum hanyalah hiasan pelengkap
Untuk melegalkan tindakan para mafia
(Puisi Oleh: Ratri Dwi Putriana)
Monday, 28 March 2011
jejak hari pertama PEMILWA FE UII
Hari ini merupakan hari pertama pencoblosan para calon pemimpin mahasiswa di lingkungan KM UII. Nampak kotak alumunium berdiri tegak di salah satu sisi hall tengah fakultas ekonomi UII. pukul 12.32 tim EKONOMIKA mampir untuk membincangkan PEMILWA bersama PANWIL (panitia wilayah) PEMILWA FE UII. Kami mendapat kabar (informasi dari pukul 12.32 hingga 15.00 WIB-red) jumlah pencoblos dari kampus Antara ini sudah berjumlah 190 orang. Setiap pencoblos, akan didata oleh PANWIL dengan microsoft Excel. Hal ini didukung juga dengan pernyataan Ahmed Zahri, PANWIL yang lain, bahwa data yang sudah di Excel itu akan mampu mencegah adanya pencoblos yang mencoblos
Kala Hitam di Bulan Maret
Pelatih tim Kala Hitam, Kanco Hersuwan Bangun menceritakan bahwa persiapan yang dilakukan oleh timnya hanya berlangsung selama satu minggu. Diturunkannya mereka di pertandingan ini juga bertujuan untuk melatih mental kawan-kawan Kala Hitam agar lebih berani dan percaya diri.
Friday, 25 March 2011
Friday, 14 January 2011
Tentang Frau
Thursday, 23 December 2010
Sportivitas
Benar adanya karier persepakbolaan Timnas Indonesia sedang merangkak naik. Kemenangan beruntun yang diraih oleh pejuang garuda memang patut diacungi jempol. Semua ingin turut berpartisipasi untuk mendukung karier Timnas Indonesia. Mendatangi lapangan tempat timnas berlatih dilakukan bagi sekawanan warga yang ingin melihat dan mendukung timnas Indonesia. Lagu kebangsaan baru “Garuda Di Dadaku” hinggap hampir di seluruh penjuru negeri. Politisi pun tidak mau ketinggalan, jamuan-jamuan dilakukan untuk “menyemangati” punggawa-punggawa yang akan berlaga. Pertanyaannya, kemana dukungan-dukungan tersebut ketika Timnas kita kalah dan belum mampu berbuat banyak?
Beragam intepretasi muncul ketika sikap Abu Rizal Bakri memberikan jamuan di kediamannya beberapa waktu yang lalu. Langkah menyambut kesuksesan Timnas sepakbola Indonesia dianggap sebagai langkah politik. Terlebih , lelaki yang akrab dikenal dengan Ical ini sedang didorong penuh oleh Golkar maju ke kancah pemilihan presiden 2014 mendatang. Apakah momen ini dijadikan pencitraan Ical guna meriah kursi RI 1?
Menurut sebuah sumber (detik.com) , Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso membantah adanya niat politik Ical dalam perjamuan dengan Timnas, Senin (20/12/2010) kemarin. Menurutnya wajar ketika sebagian kalangan berpendapat demikian. Melalui sumber yang sama, ketua DPD Iman Gusman mengatakan bahwa PSSI tidak boleh dijadikan alat politik praktis.
Sepak bola hakikatnya sangat menjunjung nilai-nilai sportivitas. Menang dengan cara terhormat adalah suatu kebanggaan. Benar adanya sampai saat ini perhelatan sepakbola Indonesia masih terjadi kecurangan. Apakah ini salah? Tidak, ketika kita melihat para pemimpin bangsa kerap bahkan sering melakukan tindakan unfair dalam menjalankan roda pemerintahan. Wajar ketika banyak kalangan yang berpandangan skeptis ketika Ical memberikan jamuan kepada Timnas Indonesia yang baru lolos ke Final.
Para politisi dari partai lain pun seperti burung yang saling sahutan melihat sikap ketua partai Golkar tersebut. Pandangan miring dari partai lainnya tak ubahnya seperti macan yang berebut mangsa. Adakah apresiasi yang sepadan ketika timnas Indonesia mengalami masa keterpurukan?. Adakah bonus bonus yang diberikan kepada para pejuang garuda yang sudah berjuang maksimal walaupun belum menuai hasil memuaskan?. Dan masihkah ada perhatian selepas perhelatan ini usai? Kita lihat saja (OL)
Sunday, 19 December 2010
Lereng Merapi, Lokasi Wisata Erupsi
Friday, 17 December 2010
JADI PEMAIN BUKAN PENONTON !
(Sleman, 16 Desember 2010) Jalan itu cukup terjal, tampak pohon yang sudah mengering di sepanjang jalan. Di kanan dan kiri bahu jalan berjajar rumah yang masih penuh tertutup pasir, semakin kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi tujuan, semakin banyak rumah yang hancur bahkan rata dengan tanah. Inilah sisa-sisa bencana Gunung Merapi yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Sekitar empat
Wednesday, 15 December 2010
Potret Pendidikan FE UII
Belakangan di sekitar saya memang kerap diperbincangkan tentang sistem pendidikan di fakultas ekonomi Univesitas Islam Indonesia. Kacamata yang digunakan jelas tidak hanya dari segi mahasiswa, melainkan juga dari perspektif lain seperti, pendidik yang tidak lain adalah dosen dan juga entitas-entitas lain yang ada di fakultas ekonomi. Mau dibawa kemana pendidikan yang ada di fakultas ekonomi UII ini? Ini menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. Beberapa masalah sangat umum kita dengar di sekitar kita, seperti masalah keterlambatan, instrumen pendukung. Jika kita memecah satu
Tuesday, 14 December 2010
Rakyat Yogja Tuntut Penetapan
Yogyakarta (13/12) Jam menunjukkan pukul 11.00 wib, gemuruh terdengar ketika saya belok memasuki jalan Malioboro. Memang tampak ada yang berbeda hari ini. Mobil patrol, water canon, dan juga banyak aparat keamanan berjaga di sudut-sudut kota. Keheranan ini semakin bertambah ketika kami tidak melihat pedagang Jogjakarta yang menjajakan barang dagangan seperti biasanya. Ternyata hari ini warga jogja sedang berteriak guna mendemonstrasikan RUUK DIY yang tak kunjung usai.
“HIdup warga Jogja…hidup keistimewaan…hidup penetapan”. Begitu kiranya sedikit potongan tuntutan warga terhadap pembahasan Rancangan Undang Undang Keistimewaan (RUUK) Yogyakarta yang masih terus belum menemui kejelasan sampai saat ini. Jalan Malioboro menjadi saksi sejarah kala itu. Ribuan warga turun kejalan untuk aksi damai ini. Baik dari warga asli maupun pendatang. “Kami orang Papua ikut disini, kami dukung penetapan”, ujar Hans, warga Papua yang turut ikut dalam aksi ini.
Para demonstran datang dari segala penjuru Jogja dan lapisan masyarakat. Dimulai dari sekitar 700 lebih Siswa SMA Kolese De Britto yang sudah datang sejak jam sepuluh pagi. Kemudian baliho-baliho dikibarkan, tak kalah poster-poster berisi tuntutan dan hujatan dibawa oleh warga. Berbagai kalimat-kalimat provokatif diluncurkan dalam demonstrasi tersebut. “SBY = SUMBER BENCANA YOGYAKARTA”, begitulah salah satu tulisan dalam spanduk yang tidak luput dari pandangan saya. Tidak hanya poster dan spanduk, turut meramaikan juga beragam aksi kebudayaan daerah. Tampak dari kejauhan salah satu kelompok demonstran berputar-butar. Bulu warna warni dikepala, busur panah juga dibawanya. Tak lain adalah warga Papua yang juga ikut menuntut penetapan. Kemudian tidak ketinggalan warga NTT yang juga datang memainkan alat musik dan juga tarian. Masih banyak lagi aksi yang dibawakan oleh masyarakat siang itu. Tapi satu hal yang mereka inginkan. Penetapan terhadap Sri Sultan dan Sri Paduka Pakualaman adalah harga mati.
Warga berbondong-bondong masuk kedalam halaman DPRD DIY. Hanya lautan manusia yang tampak siang itu. Warga berteriak dan berorasi secara bergantian di panggung yang telah disediakan sisi timur halaman gedung. Gusti prabu, salah satu adik dari sultan yang juga baru saja memutuskan untuk keluar dari partai Demokrat datang dan berorasi kala itu. “Saya hanya mengiring masyarakat. Saya mendukung aamanat dari orang tua saya. Saya dukung penetapan” ujarnya dalam orasi tersebut.
Sesaat kemudian azan berkumandang memecah keriuhan aksi tersebut. Para demonstran yang berteriak mulai diam dan suasana pun reda beberapa saat. Warga yang hendak sholat langsung menuju masjid yang berada di sisi utara halaman DPRD. Tepat pukul satu siang, akhirnya sidang paripurna DPRD dimulai. Oleh pembawa acara, maysarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak meninggalkan aksi ini. “Kami ingin mengawal jalannya sidang ini, harus penetapan”, ujar Prio, salah satu demonstran. Sidang ini disiarkan live oleh beberapa stasiun tv swasta yang juga meliput acara ini. Sehingga warga dapat menyaksikan langsung jalannya sidang ini.
Mata dan telinga warga hampir tidak pernah lepas dari siaran langsung sidang tersebut. ada yang duduk, berdiri ataupun berusaha untuk dapat masuk kedalam ruang sidang. Namun berkat pengawalan aparat keamanan, ruang sidang terjaga dari hal tersebut.
Saatnya pembacaan keputusan tiap fraksi di DPRD. Riuh, cercaan, sorakan dan juga tepuk tangan keluar dari para demonstran. Namun ketika fraksi dari partai Demokrat membacakan keputusannya, riuh cercaan, dan sorakan yang keluar dari mulut para demonstran. “Huuu, bosok!, ra ceto!(tidak jelas), ra teges(tidak tegas). Suasana itu yang tampak ketika perwakilan dari fraksi Demokrat membacakan keputusannya. Sikap tidak tegas memang tampak dari fraksi Demokrat. Ketika seluruh fraksi tegas dalam mengambil keputusan yang tidak lain adalah penetapan, sedangkan dari fraksi Demokrat tidak memilih keduanya. Perwakilan fraksi Demokrat memutuskan terkait masalah mekanisme pengangkatan gubernur, harus melalui pengkajian lebih lanjut. Sontak sebagian warga yang mendengar hal itu semakin geram.
Pembacaan keputusan dari tiap fraksi akhirnya berakhir sekitar pukul 3.15 WIB. Sidang akhirnya dipending selama sepuluh menit. Yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan hasil keputusan oleh sekertaris sidang. Keputusan yang di ambil dalam sidang ini yaitu adalah penetapan. Surat keputusan itu pun berakhir dengan penandatanganan surat oleh Yoeke Indra Agung Laksana yang tidak lain adalah ketua DPRD DIY yang juga menjadi pimpinan sidang.
Ketika saya mencoba keluar dari ruang sidang, saya membayangkan sudah banyak warga yang meninggalkan halaman DPRD DIY. Karena rapat ini hamper menelan waktu sekitar tiga jam lebih. Prediksi saya salah kali ini. Halaman itu semakin dipadati oleh warga yang masih rela menunggu hasil keputusan. Pembawa acara memanggil para perwakilan fraksi-fraksi yang mengikuti sidang tersebut. Dan mereka diminta untuk memberikan pernyataan ulang bahwa DPRD DIY memilih “penetapan ” Sri Sultan Sebagai Gubernur dan Sri Paduka Pakualaman sebagai wakilnya. Satu persatu wakil fraksi membacakan. Fraksi Golkar, PKB, PAN, PKS, PDIP, dan PNPI telah membacakan statement ulang. Tak ayal kemudian pemandu acara menanyakan keberadaan perwakilan fraksi Demokrat yang ternyata sudah pulang sebelum pembacaan keputusan akhir. Hal ini juga kemudian semakin menyulut warga yang mengawal jalannya sidang tersebut.
Akhirnya aksi pun ditutup dengan nyanyian “berkibarlah bendera ku”. Semua warga hikmat menyanyikannya. Aksi damai ini pun akhirnya selesai, warga pulang dengan teratur dan tertib. HIDUP WARGA JOGJA…!! :) (OLs)
Juru Bicara Partai Demokrat Disoraki Massa
(Yogyakarta, 13/12) Dalam Sidang Paripurna pembahasan draft Rancangan Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta (RUU KY), ketua DPRD, Yoeke Indra Agung Laksana memimpin jalannya sidang yang dihadiri 44 dari 55 anggota. Enam fraksi menyatakan sepakat dengan keistimewaan dengan salah satu bentuknya, penetapan Sultan Hamengku Buwono sebagai gubernur dan Paku Alam sebagai wakil gubernur.
Hanya Fraksi Partai Demokrat melalui juru bicara Agung Prasetya yang tidak menyatakan secara tegas penetapan Sultan dan Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur. Namun partai ini malah setuju seandainya Sultan dan Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur seumur hidup. Hampir setiap pernyataannya mendapat sorakan "huuu..." dari massa (OA)







