This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label ekonomikasastra. Show all posts
Showing posts with label ekonomikasastra. Show all posts

Wednesday, 6 April 2011

lost in your love and i don't know what to do
all I know is that I can't stop thinking of you
so sorry for hurting you in the past
I wish I could take it all back
I'm only wondering how I could make it up to you
If there a way
I would hope you would show me and let me
but if you don't want to,
I just hope you don't forget me


by: Yugo Negoro

Monday, 4 April 2011

Untuk Persaingan

Apakah semua akan tetap sama
tidak berubah?
Picik
Ramai, namun lengang

isu meleleh
satu per satu antri membaur

semua merasa penting
benar
semua menang

tapi satu yang benar-benar menang
kejujuran
dunia-akhirat.... menang.....

Akulah Wakilmu

Ibu pertiwi,
Hinggaku tulis ini, kau masih berduka
Bukan tanpa sebab,
Melihat Indonesiaku tertatih persoalan tak kunjung henti
Bah berhenti ?
Lihatlah ibu,
Bagaimana kemelut persoalan itu membelenggu
Ketika hukum bisa dibeli
Harus kemana hamba sahaya tak bersalah lari
Pengangguran merajalela sementara SDA dikeruk lain bangsa
Banyak anak pribumi putus sekolah
Moral bangsa yang semakin jauh dari norma
Si miskin dan si kaya berebut subsidi pemerintah
Lantas bagaimana dengan pemerintah ?
Oleh, dari dan untuk rakyat hanya jargon saja
Entah apayang dipikirnya
Saat sidang berlangsung mereka hanya TA
Tenang…. Ibu pertiwi
Masih ada anakmu yang berbakti
Takperlu bersedih hati
Anakmu datang membawa perubahan
Di negeri ini, Indonesia
Karena bukan dia atau mereka wakilmu
Tetapi aku

(Puisi Oleh: Medinah Arisanty)

Negeriku Negeri Mafia

Dulu negeriku dikenal dengan kearifan budayanya
Senyum sapa ramah ciri khas pribadinya
Kebijaksanaan milik rakyat maupun penguasa
Tetap tegar ditengah gempuran sang adidaya
Itu dulu…………..
Kini, budi pekerti luhur semakin luntur
Kepentingan rakyat seakan digusur
Penguasa tak lagi mau jujur
Mereka bilang, biar saja negeri ini hancur
Uang telah menjadi dewa
Yang halal jadi haram, haram pun dihalalkan
Intelektualitas dijadikan senjata
Korupsi, kolusi, nepotisme menjadi hal yang biasa
Penjahat kerah putih merajalela
Tak dapat mangsa, nyawalah taruhannya
Sekarang, tak ada kenyamanan di negeriku ini
Sang pengayom tak lagi mau mengayomi rakyatnya
Sang pengadil melepaskan tikus-tikus pemangsa
Hukum hanyalah hiasan pelengkap
Untuk melegalkan tindakan para mafia

(Puisi Oleh: Ratri Dwi Putriana)

Sunday, 12 December 2010

Sedikit Doa Syukur

Sedikit Doa Syukur

Pagi mulai memasuki masa pasang

Matahari sudah membakar embun sejak lama

Bekas basah hujan mengering dan menguap

Udara yang segar sudah berlalu

--Pagi--

Semangat memulai semuanya

Doa dan pujian syukur menghembus dari uap nafas perlahan

Ada cahaya dari tiap binar mata kawan-kawan

Mereka menepis malas dan kantuk dengan menggunakan indra samping kepala menyerap ilmu segala

Tuhan, firmanMu kami ambil dan kami simpan dalam genggam jemari

Tuhan, doa restuMu kami harap hingga nanti. Nanti. Dan nanti

Tuhan, terima kasih disampaikan lewat hening doa kami

Ridhai langkah kami memulai hari esok sebagai manusia pembawa warta kebenaran

Tuhan, kami ingin menjadi pejuang untuk jiwa yang terkungkung di luasnya samudera dusta

Tuhan, kami terima kasih padaMU, atas hari ini dan esok


12 Desember 2010 @Kadisoka, hari terakhir DJTD Magang LPM Ekonomika FE UII

Thursday, 9 December 2010

kenangan yang tak pernah basi














saat promnight (jah...). malam perpisahan bersama para pengungsi di Gadingsari, Magelang.
dirayakan dengan sukacita, sambil menikmati dan ikut hanyut dalam canda tawa hiburan tradisional, yang sarat nilai budaya.


bersama pula grup nasyid yang melantunkan syahdunya pujian dan ucap syukur pada Allah SWT atas banyak hal yang masih bisa dinikmati dan disyukuri dalam hidup kita, meski bencana menghampiri

Saturday, 27 November 2010

jangan mengkritik tanpa solusi

sebuah catatan dalam keheningan di sebuah ruangan, sebut saja kantor EKONOMIKA.
sebuah pesan teruntuk kawanku, yang selalu saja mengeluh bosan dengan yang nampak di matanya dari ruangan berkeramik putih ini




saya tahu
bahwa kebosanan itu mudah sekali hadir ketika kita melakukan hal-hal itu saja
saya tahu
kebosanan itu mudah sekali hadir ketika kita melihat hal-hal itu saja
saya tahu
menjadi berkembang tidak mudah dengan melakukan hal yang itu-itu saja
saya tahu
menjadi berkembang tidak mudah dengan membiarkan siapapun melakukan sekehendaknya
saya tahu
bahwa menjadi hidup adalah berguna
saya tahu
bahwa menjadi lebih proaktif adalah kunci perubahan untuk semua
saya tahu
bahwa menjadi orang yang bisa mengubah dunia dibutuhkan mulut yang sedikit diam, namun tangan dan kaki yang bergerak
dan yang terakhir saya tahu
bahwa mengeluh ataupun tidak mengeluh, ketika kita tak melakukan apa-apa, hanyalah menempa muak

Wednesday, 24 November 2010

children's smile












senyum anak-anak di posko pengungsian erupsi merapi di Gadingsari, Magelang

Sunday, 21 November 2010

Cerpen Kilat

Renungan Harian Organisatoris
Oleh: Uli Febriarni

Aku berdiri di kamar kostku yang begitu gelap, hanya ada cahaya lampu atap koridor di depan kamar yang mengintip dari ventilasi jendela. Nafasku teratur dan terdengar begitu sayup di telingaku sendiri. Jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 00.30 WIB. Aku tak peduli dengan jarum panjang dan pendek yang tak lama lagi akan berubah menandakan hari lebih pagi lagi, masih ada banyak hal yang aku renungkan dalam kegelapan ini. Ada banyak pertanyaan yang memenuhi benakku,

sebuah cerita pendek

Gara-Gara Headline
Oleh: Uli Febriarni

Getaran dan guncangan yang menyerang dadaku masih terasa sesak, lebam di tulang pipiku belum lekas hilang dari tempatnya.
“Kayaknya masih lama neh ilangnya”, ujarku pada Dimas, teman lembaga dari koperasi mahasiswa di kampusku yang saat ini menemani aku dirawat di Rumah Sakit Glory Road selama tiga hari ini .
“Emangnya kerjaan gue beresiko banget apa yak Dim? Masa’